Nama : Dian Andarwati
NIM :
17709251063
Pendidikan Matematika (S2) Kelas C
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
Selasa, 3 Oktober 2017
Perkuliahan
Filsafat Ilmu ini diampun oleh Bapak Marsigit. Perkuliahan ini dilaksanakan
setiap hari Selasa pukul 07.30. Pada hari selasa, 3 Oktober 2017 dilaksanakan
tes jawab singkat yang ketiga. Dari ungkapan yang dibuat oleh Bapak Marsigit, mahasiswa
disuruh mencari ungkapan filsafat. Adapun pertanyaan dan jawabannya adalah
sebagai berikut.
- Apa makna filsafat,” Mengapa tidak tanda tangan? Filsafatnya foundationalism atau landasan dari komunikasi.
- Tanda tangan itu untuk apa. Untuk apa itu termasuk utilitarian.
- Lho emangnya .. Filsafatnya adalah disharmoni.
- Lho jangan gitu... Filsafatnya adalah determinist.
- Nada-nadanya nilai kosong. Nada-nadanya nilai nol juga. Filsafatnya adalah teotologi yaitu meramal atau memperkirakan.
- Ketus amat sih..Filsafatnya adalah anarki.
- Jadi nggak enak rasanya. Filsafatnya adalah sensitif.
- Kayak gitu kok tanya? Filsafatnya adalah determinist.
- Ya.. Keterlaluan.. Filsafatnya adalah determinist.
- Tidak tandatangan. Filsafatnya adalah nihilism.
- Mungkin karena tidak paham. Filsafatnya adalah skeptisism.
- Kan tergantung kesepakatannya. Filsafatnya adalah foundationalism.
- Pikir.. Filsafatnya adalah rasionalism.
- Jangan Cuma berandai-andai. Filsafatnya adalah fiksionalism.
- Ini kan wajib.. Filsafatnya adalah absolutism.
- Anggap saja nggak paham. Filsafatnya adalah idealism.
- Kayak gitu kok mengharapkan hasil terbaik. Filsafatnya adalah perfectionalism.
- Focus. Focus. Focus. Filsafatnya adalah reductionism atau abstraksi.
- Ehmm.. Filsafatnya adalah disharmoni.
- Ya terserah saja. Filsafatnya adalah fakta.
- Mungkin. Filsafatnya adalah skeptism.
- Ada. Filsafatnya adalah determinist.
- Kerja. Kerja. Kerja. Filsafatnya adalah mitos.
- Isyarat. Filsafatnya adalah simbolism.
- Dicek lagi. Filsafatnya adalah hermeneutika.
Membaca
itu sampai mengendap. Membaca dengan menjiwai, berkali-kali. Harus sampai
teraktualisasi. Filsafat yang Bapak Marsigit tulis adalah filsafat metafisik
jadi yang sudah mengendap. Filsafat itu di bawah spiritual, namun di atas semua
ilmu. Namun jangan sampai untuk mencari spiritual hanya mengandalkan pada
beberapa hal saja. Seberapa jauh mampu memikirkan akhirat. Hanya sebagian kecil
saja. Pikiran manusia itu ada dua macam yaitu yang berlandasan dan tidak
berlandasan. Spiritual itu semuanya foundationalism. Landasannya kan yakin. Semua yang berlandasan
namanya foundationalism. Kalau tidak beralandasan namanya antifoundationalism. Seperti
perahu di atas samudera. Mau kemana, tidak tahu arah, namanya anti
foundationalism. Salah satu anti
foundationalism adalah intuisi. Kita bisa merasakan rasa rindu, benci, sayang
namanya anti foundationalism. Kalau benci ya benci kalau sayang ya sayang.
Kalau cinta ya cinta. Tidak perlu dicari alasannya. Tidak perlu membuat angket
satu kampung untuk mengetahui jawabannya. Tetapi kalau kita bertanya tentang
apa, bagaimana perlu di jawab. Karena merupakan landasan.
Berdoa adalah landasan. Landasan keluarga
adalah menikah. Landasan agar ujian selesai adalah setiap hari membuat
landasan. Landasan formalnya tandatangan. Kesepatakatan. Bertanya itu landasan.
Kalau sudah bertanya tetapi tidak dijawab berarti sudah diberi landasan tetapi
tidak dibangun. Untuk apa itu berarti manfaat. Asas filsafat itu juga ada asas
manfaat atau aksiologi. Lhoh kok kayak gitu, menjatuhkan sifat namanya
determinist. Determinist itu identik dengan kuasa. Kuasa memberi stigma, kuasa
berbohong. Kuasa menjatuhkan sifat itu namanya seorang determinist. Tidak enak
itu sensitifism.
Saya
itu meramal, namun tidak sembarang meramal, itu namanya teleologi. Teleologinya
Immanuel Kant. Ketus amat itu anarki. Anarki sudah mau berkelahi. Kesepakatan
dalam arti rundingan dialektism, sejak jaman Socrates. Kesepakatan dalam arti landasan
berarti foundationalism. Karena landasan itu sepakat. Pikir. Pikir. Pikir. Itu
filsafatnya Rene Descartes. Kerja, kerja, kerja. Itu termasuk filsafatnya
mitos. Karena kalau kerja saja tidak dipikirkan. Mitos itu musuh filsafat. Karena
berhenti berpikir. Andaikata. Pengandaian itu fiksi, fiksionalism. Segala
ancaman kewajiban itu absolutism. Anggapan dianggap baik dianggap begini itu menuju
ke idealism. Baik terbaik itu perfectionalism. Orang fokus itu prinsip kerja
fenomenologi. Kalau kita fokus pada satu hal itu berarti mengabaikan yang lain.
Artinya kita memilih. Tidak ada fokus tanpa memilih. Namanya fokus pasti
memilih dan mengabaikan yang lain, itu namanya reduktionism. Segala macam pilek,
batuk itu disharmoni. Kalau terserah, pasrah dan memperkecil ikhtiar namanya
fatal, fatalism. Orang yang hidupnya
terserah takdir. Kalau kita tidak fokus maka tidak akan sampai ke sini. Untuk
berubah dari seorang fatal ke fital itu begitu cepat.
Segala
macam kemungkinan itu skeptism fislafatnya Rene Descartes. Rene Descartes itu
aku berpikir maka aku ada. Selama ini aku tidak bisa menentukan aku ini ada
atau tidak. Karena aku bermimpi. Ketika aku bermimpi persis seperti keadaan. Ada
RAM dan ROM dipikiran kita. Kalau baterai bisa dimatikan, kalau manusia kan
tidak bisa dicabut powernya. Maka memorynya sebagian masih jalan saat tidur. Orang
Jepang itu bikin program mimpi. Ingin mimpi dengan siapa. Kalau salah program
mimpinya bertemu dengan bidadari ternyata malah bertemu genderuwo misalnya.
Zona
nyaman itu mulai dari fisik sampai spiritual. Kalau fisik Jika di rumah saja
tidak melakukan apa-apa itu tidak kena angin tidak kena apa-apa artinya berada
di zona nyaman secara fisik. Kalau pulang kerja kehujanan, ban bocor, sakit itu
ketidaknyamanan secara fisik. Kalau secara pikiran, memang kita sengaja membuat
pikiran kita tidak nyaman Berfilsafat
itu bisa membedakan nyaman di dalam pikiran dan nyaman dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar