Senin, 01 Januari 2018

Etik dan Estetika dibalik Pertunjukan Wayang dengan Lakon Semar mbangun Kahyangan

Pada kesempatan ini, saya ingin mengepost terkait etik dan estetika dibalik pertunjukan wayang dengan lakon semar mbangun kahyangan. Saya menonton wayang di dusun saya, dusun Klagaran, desa Gadingsari, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul pada tanggal 26 November 2017. Saya akan mecoba merefleksikan apa yang dapat saya tangkap dari cerita wayang tersebut dan juga dari hasil cerita Bapak saya terkait lakon ini dan membaca beberapa referensi terkait wayang.
Semar, dari namanya saja sudah terlihat bahwa dia samar-samar. Semuanya serba kontradiksi, apakah dia laki-laki ataukah perempuan karena dia punya ciri khas yang dimilki oleh laki-laki dan perempuan. Ada kontradiksi lagi, jika semar seorang pamong tetapi mengapa dia melarat, akan tetapi jika dia memang rakyat jelata, tetapi dia sangat dihormati. Sebenarnya semar adalah dewa yang menyamar menajdi rakyat kecil, seringkali nasibnya diremehkan dan disakiti, bahkan ketula-tula.
Dalam lakon ini, maksud membangun kahyangan adalah semar ingin membangun mental atau kepribadian dari para pemimpinnya. Namun demikian, karena semar hanyalah seorang abdi maka rencana semar malah dipertanyakan oleh Kresna, Kresna salah penegrtian dikiranya membangun kahyangan tempat apra dewa dan Kresna mengajak pandawa (puntadewa, werkudara, janaka, nakula) untuk menggagalkan rencana semar kecuali Sadewa yang memilih berada di pihak Semar untuk menegakkan kebenaran. Meskipun tidak direstui semar tetap melanjutkan rencananya, dia bertapa dengan menggunakan tiga pusaka kerajaan yaitu jamus kalimasada, payung tunggulnaga, dan tombak kalawelang. Jamus kalimasada tidak lain tidak bukan adalah syahadat, tombak kalawelang adalah simbol ketajaman budi pekerti atau perasaan seseorang, sementara welang berarti wulang weling artinya wulang itu mengajarkan dan weling itu pengeling-eling atau pengingat. Sementara payung berarti yang mengayomi dalam hal ini adalah negara sebagai pengayom untuk rakyatnya. Kisah ini sebenarnya adalah bentuk kiritik bagi penguasa yang disajikan dalam sebuah budaya pertunjukan wayang. Di dalam cerita tersebut mengandung nasehat bagi pemerintahan dalam hal ini bagi penguasa pemerintahan. Ketika semar tahu pandawa berada di pihak Kresna semar justru menangis karena melihat para pemimpin yang pendiriannya terombang-ambing dan tidak bisa teguh. Karena semar menangis, ketiga pusaka tadi mendatangai semar. Pandawa kebingungan. Kresna meminta bantuan Bathara Guru untuk membantalkan rencana semar mbangun kahyangan. Di sini jiwa spiritual semar diuji. Terjadilah peperangan. Namun dengan bantuan ketiga pusaka tersebut akhirnya pandawa mengetahui niat baik semar. Kresna dan Batrhara Guru kalah dalam peperangan tersebut. Semar kemudian memberikan pengertian kepada Kresna bahwa yang akan dibangun adalah mental anak-anak pandawa. Akhirnya para anggota pandawa kembali bersatu. Kresna meminta maaf kepada semar.
Menurut https://id.wikipedia.org/wiki/Etika,  Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti "timbul dari kebiasaan") adalah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral.  Etika mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benarsalahbaikburuk, dan tanggung jawab. Dari cerita di atas ada nilai etik yang dilakukan semar dalam membangun kahyangan yaitu ingin membangun mental, jiwa, dan kepribadian para pemimpin agar lebih baik dan tentunya bersatu memajukan pemerintahan yang mengutamakan kesejahteraan rakyatnya.
Sementara nilai estetika, menurut https://id.wikipedia.org/wiki/Estetika,  estetika adalah salah satu cabang filsafat yang membahas keindahan. Estetika merupakan ilmu membahas bagaimana keindahan bisa terbentuk, dan bagaimana supaya dapat merasakannya. Estetika dalam cerita di atas menurut saya dapat dilihat dari berbagai sisi keindahan wayang. Di mana cerita wayang sebenarnya awal mulanya adalah sarana yang dilakukan oleh wali songo untuk melakukan siar Islam. Ada keindahan dibalik setiap cerita wayang, mulai dari penyajian wayang yang terbuat dari kulit hewan yang diukir secara detail sesuai dengan tokoh wayang tersebut, ada debog batang pohon pisang) untuk menancapkan wayang tersebut, ada kelir atau kain putih sebagai bayangan dari wayang ketika dimainkanyang masing-masing melambnagkan kehidupan wayang. Nilai estetika lain dari wayang terletak pada keindahan bahasa yang masih kental dengan bahasa Jawanya dan juga penyajiannya yang menggunakan gamelan. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar