Pada kesempatan ini, saya ingin mengepost
terkait etik dan estetika dibalik pertunjukan wayang dengan lakon semar mbangun
kahyangan. Saya menonton wayang di dusun saya, dusun Klagaran, desa Gadingsari,
Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul pada tanggal 26 November 2017. Saya akan
mecoba merefleksikan apa yang dapat saya tangkap dari cerita wayang tersebut
dan juga dari hasil cerita Bapak saya terkait lakon ini dan membaca beberapa
referensi terkait wayang.
Semar, dari namanya saja sudah terlihat bahwa
dia samar-samar. Semuanya serba kontradiksi, apakah dia laki-laki ataukah
perempuan karena dia punya ciri khas yang dimilki oleh laki-laki dan perempuan.
Ada kontradiksi lagi, jika semar seorang pamong tetapi mengapa dia melarat,
akan tetapi jika dia memang rakyat jelata, tetapi dia sangat dihormati.
Sebenarnya semar adalah dewa yang menyamar menajdi rakyat kecil, seringkali
nasibnya diremehkan dan disakiti, bahkan ketula-tula.
Dalam lakon ini, maksud membangun kahyangan adalah
semar ingin membangun mental atau kepribadian dari para pemimpinnya. Namun
demikian, karena semar hanyalah seorang abdi maka rencana semar malah
dipertanyakan oleh Kresna, Kresna salah penegrtian dikiranya membangun
kahyangan tempat apra dewa dan Kresna mengajak pandawa (puntadewa, werkudara,
janaka, nakula) untuk menggagalkan rencana semar kecuali Sadewa yang memilih
berada di pihak Semar untuk menegakkan kebenaran. Meskipun tidak direstui semar
tetap melanjutkan rencananya, dia bertapa dengan menggunakan tiga pusaka
kerajaan yaitu jamus kalimasada, payung tunggulnaga, dan tombak kalawelang.
Jamus kalimasada tidak lain tidak bukan adalah syahadat, tombak kalawelang
adalah simbol ketajaman budi pekerti atau perasaan seseorang, sementara welang
berarti wulang weling artinya wulang itu mengajarkan dan weling itu
pengeling-eling atau pengingat. Sementara payung berarti yang mengayomi dalam
hal ini adalah negara sebagai pengayom untuk rakyatnya. Kisah ini sebenarnya
adalah bentuk kiritik bagi penguasa yang disajikan dalam sebuah budaya
pertunjukan wayang. Di dalam cerita tersebut mengandung nasehat bagi
pemerintahan dalam hal ini bagi penguasa pemerintahan. Ketika semar tahu
pandawa berada di pihak Kresna semar justru menangis karena melihat para
pemimpin yang pendiriannya terombang-ambing dan tidak bisa teguh. Karena semar
menangis, ketiga pusaka tadi mendatangai semar. Pandawa kebingungan. Kresna
meminta bantuan Bathara Guru untuk membantalkan rencana semar mbangun
kahyangan. Di sini jiwa spiritual semar diuji. Terjadilah peperangan. Namun
dengan bantuan ketiga pusaka tersebut akhirnya pandawa mengetahui niat baik
semar. Kresna dan Batrhara Guru kalah dalam peperangan tersebut. Semar kemudian
memberikan pengertian kepada Kresna bahwa yang akan dibangun adalah mental
anak-anak pandawa. Akhirnya para anggota pandawa kembali bersatu. Kresna
meminta maaf kepada semar.
Menurut https://id.wikipedia.org/wiki/Etika, Etika (Yunani Kuno: "ethikos", berarti
"timbul dari kebiasaan") adalah sesuatu di mana dan bagaimana cabang
utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan
penilaian moral. Etika mencakup
analisis dan penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab. Dari
cerita di atas ada nilai etik yang dilakukan semar dalam membangun kahyangan
yaitu ingin membangun mental, jiwa, dan kepribadian para pemimpin agar lebih
baik dan tentunya bersatu memajukan pemerintahan yang mengutamakan
kesejahteraan rakyatnya.
Sementara nilai estetika, menurut https://id.wikipedia.org/wiki/Estetika,
estetika adalah salah
satu cabang filsafat yang membahas keindahan. Estetika
merupakan ilmu membahas bagaimana keindahan bisa terbentuk, dan bagaimana
supaya dapat merasakannya. Estetika dalam cerita di atas menurut saya dapat
dilihat dari berbagai sisi keindahan wayang. Di mana cerita wayang sebenarnya
awal mulanya adalah sarana yang dilakukan oleh wali songo untuk melakukan siar
Islam. Ada keindahan dibalik setiap cerita wayang, mulai dari penyajian wayang
yang terbuat dari kulit hewan yang diukir secara detail sesuai dengan tokoh
wayang tersebut, ada debog batang pohon pisang) untuk menancapkan wayang
tersebut, ada kelir atau kain putih sebagai bayangan dari wayang ketika
dimainkanyang masing-masing melambnagkan kehidupan wayang. Nilai estetika lain
dari wayang terletak pada keindahan bahasa yang masih kental dengan bahasa
Jawanya dan juga penyajiannya yang menggunakan gamelan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar