Nama : Dian Andarwati
NIM : 17709251063
Pendidikan Matematika
(S2) Kelas C
Refleksi Perkuliahan
Filsafat Ilmu
Selasa, 5 September 2017
Perkuliahan
Filsafat Ilmu ini diampun oleh Bapak Marsigit. Perkuliahan ini dilaksanakan
setiap hari Selasa pukul 07.30. Pada hari selasa, 5 September 2017 ini merupakan pertemuan pertama kulaih Filsafat Ilmu. Pertemuan
filsafat yang pertama ini, Prof Marsigit menjelaskan terkait paradigma
filsafat. Untuk silabus perkuliahan filsafat ilmu ini dapat diakses di http://uny.academia.edu/MarsigitHrd
. Untuk blog perkuliahan dapat diakses di https://powermathematics.blogspot.co.id
. Dalam filsafat ilmu ini ada beberapa karakteristik. Paradigma dari filsafat
ilmu adalah konstruktivisme. Membangun. Membangun dunia, akhirat, hidup,
kepercayaan, kesehatan, membangun rumus, membangun teori, membangun paradigma.
Maka membangun yang paling bermakna dari membangun itu adalah membangun untuk
dirinya sendiri bukan dibangunkan. Ketika bikin rumah membangun sendiri maka
akan menegrti seluk beluknya. Karena paradigma itu membangun maka bukan dalam
konteks memberi, ketika dalam pembelajaran bukan berarti memberi tetapi membangun
pondasi matematika. Semua yang ada dapat diawali dengan kata membangun.
Jadi karena konstruksi maka kita mencari ilmu. Karena
kita membangun, mencari maka satu dan yang lain beda. Bapak Marsigit tidak ada
ujian, namun Bapak ingin melihat bagaimana mahasiswa itu membangun, seperti apa
bangunannya dengan cara comment. Membangun juga dikaitkan dengan paradigma
subjek belajar, bagaimana kita dipandang sebagai orang yang mandiri seperti
visi UNY yaitu unggu, kreatif, inovatif, bernurani, mandiri, cendekia. Kalau
diimplementasikan itu otonomi. Mau atau tidak mau belajar.
Ilmu itu diawali dengan bertanya. Maka jika tidak ada
pertanyaan maka tidak ada ilmu. Namun jika urusan akhirat, urusan hati itu
butuh penghayatan. Maka nanti dapat menghasilkan banyak pertanyaan. Dalam diri
manusi itu yang paling tinggi ada spiritual kemdian di bawahnya ada ilmu di
bawahnya lagi ada aturan dan di bawahnya yang paling akhir adalah fisik.
Spiritual adalah yang paling tinggi dan menjadi landasan untuk struktur di
bawahnya.
Jika kita melalukan perbuatan dengan bismillah maka itu
melibatkan spiritual, namun jika tidak dengan doa maka termasuk fisik, dan itu
adap perbedaan makna. Keilmuan turun sedikit menjadi psikologi yaitu gejala
jiwa. Spiritual turun ke bawah menajdi filsafat, filsafat menjadi psikologi dan
psikologi dibagi menjadi dua yaitu psikologi wacana dan terapan.Semua yang ada
dan yang mungkin ada di dunia ini memiliki intuisi. Misal aku sedang melihat
batu yang menangis. Aku sedang melihat dua buah batu yang berkejar-berkejaran. Kalau
orang yang tidak nyampai pemikirannya akan mengalami kebingungan.
Filsafat itu bagaimana mengcover persoalan sehari-hari ke
dalam filsafat. Tetapi filsafat saja tidak cukup perlu adanya spiritual. Bagaimana
pikiran itu dapat masuk semaksimal mungkin ke dalam ranah filsafat tetapi tidak
tersesat. Jangankan 1000, 1000 x 1000 pangkat seribu pun belum cukup untuk
mendefinisikan filsafat. Filsafat dapat diartikan berbagai macam. Filsafat itu
olah pikir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar