Nama : Dian Andarwati
NIM :
17709251063
Pendidikan Matematika (S2) Kelas C
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
Selasa, 24 Oktober 2017
Perkuliahan
Filsafat Ilmu ini diampun oleh Bapak Marsigit. Perkuliahan pada hari Selasa, 24
Oktober 2017 ini diawali dengan tes
jawab singkat. Adapun pertanyaan dan jawabannya adalah sebagai berikut.
1. Kapan?
Belum tentu ketika
2. Bagaimana?
Mengada
3. Mengapa?
Terpilih
4. Untuk
apa? Pengada
5. Siapa?
Subjek/ Objek
6. Di
mana? Belum tentu di sini
7. Kemana?
Ke perbatasan
8. Dengan
siapa? Dengan sifat
9. Berapa?
Kuantitatif/ kuantitas
10. Apa
kabar? Fondamen
11. Hello?
Fondamen
12. Yang
terhormati. Intensi
13. Hadirin
dan hadirat. Intensi
14. Marilah...
Determine
15. Hendaknya.
Determine
16. Kita
dapat saling menjaga. Hermeneutika
17. Saling
menghormati. Hermeneutika
18. Barangsiapa.
Aturan
19. Benar
adalah benar. Identitas
20. Salah
adalah salah. Identitas
21. Manusia
adalah umat. Objek
22. Umat.
Predikat
23. Oleh
karena itu. Koheren/ koherensi
24. Sebenar-benarnya.
Absolute
25. Harus.
Determine
Kapan?
Jawabannya adalah belum tentu ketika. Ketika kamu datang. Belum dimulai. Jadi
kapan dimulai? Belum tentu ketika kamu datang. Ini matematika. Artinya cabang
mulai dari orang awan jawabannya ditarik ke atas menjadi universal, dan berlaku
untuk kegiatan apapun dan kejadian apapun. Sekarang besok belum tentu.
Bagaimana
itu mengada. Mengapa? Itu terpilih. Untuk apa itu ungkapan filsafatnya pengada.
Adanya ilmu itu karena ada perbatasan. Hidup itu intensi, kalau kita tidak
punya perhatian tertentu maka bahaya. Karena kita tidak tau perhatiannya
kemana. Maka harus punya intensi. Orang tidak bisa intensi kalau tidak bisa
milih. Sebenar-benar orang cerdas jika bisa mengambil sikap.
Hadirin
dan hadirat itu mencari perhatian maka filsafatnya adalah intensi. Yang ajak-ajak
itu namanya determine seperti hendaknya. Saling menjaga dan menghormati itu
hermeneutika. Benar adalah benar, salah adalah salah itu identitas. Benar
adalah beanr itu tidak ada di dunia ini karena cuma ada dalam cita-cita. Bolpoint
ini warna biru. Bolpoint subjek, warna biru predikat. Bolpoint. Biru. Biru
tidak akan pernah sama dengan bolpoint. Oleh karena itu termasuk koherensi.
Jika, maka, ketika itu dalam rangka koherensi.
Demokrasi
itu tidak objektif. Sementara filsafat itu objektif. Segala macam ilmu itu
kalah dengan politik. Jangankan politik. Kita aja disebut dunia dalam filsafat.
Jokowi itu dunia. Anti jokowi juga dunia. Dunia itu konform. Dunia Jokowi,
dunia Ahok, dunia Anis itu koheren di dalam jokowiisme, ahoisme, dan anisisme.
Filsafat
itu hampir sama dnegan matematika. Mengambil notion umu, atau universal.
Pertanyaaan bapak Marsigit tadi di atas universal. Filsafat itu mencari yang
universal. Karena filsafat itu pikiran para dewa. Maka yang bisa merangkum
kemarin, sekarang, dan besok itu adalah filsafat. Bagaiama secara psikologi itu
proses. Orang awam menjadi tindakan. Kalau filsafat dinaikkan jadi mengada.
Yang bisa mengatasi semua kegiatan tersebut adalah mengada. Ada menjadi pengada
karena manusia berproses.
Mengapa
kita berbicara? Karena terpilih. Mengapa tidak hadir? Karena terpilih. Untuk
apa? Yang bisa mengatasi semua. Ini sama dengan manusia. Objek itu dipilih
sementara subjeknya yang memilih. Hermeneutika itu kalau dalam bahasa jawa
adalah cokro manggilingan. Hidup itu bergerak maju dan berputar-putar. Saling menerjemahkan.
Yang diterjemahkan itu yang ada dan yang mungkin ada. Dari batu, tumbuhan,
manusia dan sebagainya tidak mungkin hidup kalau tidak ada yang saling
menerjemahkan. Maka terjadilah hermeneutika kehidupan. Maka sebenar-benar hidup
itu adalah hermeneutika. Kita sudah mati itu pun masih diterjemahkan. Ini makam
siapa, misalnya.
Kadang
kita dimanjakan. Karena toleransi ruang dan waktu itu besar. Kalau di Jepang terlambat
panen seminggu saja tidak boleh, karena tidak bisa panen. Maka perhitungannya
harus tepat. Kalau di Indonesia terlalu di manja maka jadi kurang baik.
Penelitian
itu hidup dirimu hidup. Maka kita harus menghjidup-hidupkanide dalam penelitian
dengan cara membaca-baca referensi. Metode apa yang cocok mengajar siswa SD
adalah yang cocok dengan dunia SD. Anak yang keamrin dan sekarang aja berbeda.
Semuanya berkembang. Semua mengalami perubahan.
Immanuel
Kant itu saking pinternya tidak menikah. Dia sangat tepat waktu. Sampai
digunakan sebagai patokan waktu, kalau Immanuel Kant lewat pasti jam sekian,
dan memang benar jamnya selalu sangat tepat waktu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar