Senin, 01 Januari 2018

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Selasa, 24 Oktober 2017

Nama  : Dian Andarwati
NIM    : 17709251063
Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
Selasa, 24 Oktober 2017
Perkuliahan Filsafat Ilmu ini diampun oleh Bapak Marsigit. Perkuliahan pada hari Selasa, 24 Oktober 2017 ini diawali dengan tes jawab singkat. Adapun pertanyaan dan jawabannya adalah sebagai berikut.
1.      Kapan? Belum tentu ketika
2.      Bagaimana? Mengada
3.      Mengapa? Terpilih
4.      Untuk apa? Pengada
5.      Siapa? Subjek/ Objek
6.      Di mana? Belum tentu di sini
7.      Kemana? Ke perbatasan
8.      Dengan siapa? Dengan sifat
9.      Berapa? Kuantitatif/ kuantitas
10.  Apa kabar? Fondamen
11.  Hello? Fondamen
12.  Yang terhormati. Intensi
13.  Hadirin dan hadirat. Intensi
14.  Marilah... Determine
15.  Hendaknya. Determine
16.  Kita dapat saling menjaga. Hermeneutika
17.  Saling menghormati. Hermeneutika
18.  Barangsiapa. Aturan
19.  Benar adalah benar. Identitas
20.  Salah adalah salah. Identitas
21.  Manusia adalah umat. Objek
22.  Umat. Predikat
23.  Oleh karena itu. Koheren/ koherensi
24.  Sebenar-benarnya. Absolute
25.  Harus. Determine
Kapan? Jawabannya adalah belum tentu ketika. Ketika kamu datang. Belum dimulai. Jadi kapan dimulai? Belum tentu ketika kamu datang. Ini matematika. Artinya cabang mulai dari orang awan jawabannya ditarik ke atas menjadi universal, dan berlaku untuk kegiatan apapun dan kejadian apapun. Sekarang besok belum tentu.
Bagaimana itu mengada. Mengapa? Itu terpilih. Untuk apa itu ungkapan filsafatnya pengada. Adanya ilmu itu karena ada perbatasan. Hidup itu intensi, kalau kita tidak punya perhatian tertentu maka bahaya. Karena kita tidak tau perhatiannya kemana. Maka harus punya intensi. Orang tidak bisa intensi kalau tidak bisa milih. Sebenar-benar orang cerdas jika bisa mengambil sikap.
Hadirin dan hadirat itu mencari perhatian maka filsafatnya adalah intensi. Yang ajak-ajak itu namanya determine seperti hendaknya. Saling menjaga dan menghormati itu hermeneutika. Benar adalah benar, salah adalah salah itu identitas. Benar adalah beanr itu tidak ada di dunia ini karena cuma ada dalam cita-cita. Bolpoint ini warna biru. Bolpoint subjek, warna biru predikat. Bolpoint. Biru. Biru tidak akan pernah sama dengan bolpoint. Oleh karena itu termasuk koherensi. Jika, maka, ketika itu dalam rangka koherensi.
Demokrasi itu tidak objektif. Sementara filsafat itu objektif. Segala macam ilmu itu kalah dengan politik. Jangankan politik. Kita aja disebut dunia dalam filsafat. Jokowi itu dunia. Anti jokowi juga dunia. Dunia itu konform. Dunia Jokowi, dunia Ahok, dunia Anis itu koheren di dalam jokowiisme, ahoisme, dan anisisme.
Filsafat itu hampir sama dnegan matematika. Mengambil notion umu, atau universal. Pertanyaaan bapak Marsigit tadi di atas universal. Filsafat itu mencari yang universal. Karena filsafat itu pikiran para dewa. Maka yang bisa merangkum kemarin, sekarang, dan besok itu adalah filsafat. Bagaiama secara psikologi itu proses. Orang awam menjadi tindakan. Kalau filsafat dinaikkan jadi mengada. Yang bisa mengatasi semua kegiatan tersebut adalah mengada. Ada menjadi pengada karena manusia berproses.
Mengapa kita berbicara? Karena terpilih. Mengapa tidak hadir? Karena terpilih. Untuk apa? Yang bisa mengatasi semua. Ini sama dengan manusia. Objek itu dipilih sementara subjeknya yang memilih. Hermeneutika itu kalau dalam bahasa jawa adalah cokro manggilingan. Hidup itu bergerak maju dan berputar-putar. Saling menerjemahkan. Yang diterjemahkan itu yang ada dan yang mungkin ada. Dari batu, tumbuhan, manusia dan sebagainya tidak mungkin hidup kalau tidak ada yang saling menerjemahkan. Maka terjadilah hermeneutika kehidupan. Maka sebenar-benar hidup itu adalah hermeneutika. Kita sudah mati itu pun masih diterjemahkan. Ini makam siapa, misalnya.
Kadang kita dimanjakan. Karena toleransi ruang dan waktu itu besar. Kalau di Jepang terlambat panen seminggu saja tidak boleh, karena tidak bisa panen. Maka perhitungannya harus tepat. Kalau di Indonesia terlalu di manja maka jadi kurang baik.
Penelitian itu hidup dirimu hidup. Maka kita harus menghjidup-hidupkanide dalam penelitian dengan cara membaca-baca referensi. Metode apa yang cocok mengajar siswa SD adalah yang cocok dengan dunia SD. Anak yang keamrin dan sekarang aja berbeda. Semuanya berkembang. Semua mengalami perubahan.

Immanuel Kant itu saking pinternya tidak menikah. Dia sangat tepat waktu. Sampai digunakan sebagai patokan waktu, kalau Immanuel Kant lewat pasti jam sekian, dan memang benar jamnya selalu sangat tepat waktu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar