Senin, 01 Januari 2018

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Selasa, 26 September 2017

Nama  : Dian Andarwati
NIM    : 17709251063
Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
Selasa, 26 September 2017
Perkuliahan Filsafat Ilmu ini diampun oleh Bapak Marsigit. Perkuliahan pada hari selasa, 26 September 2017 dilaksanakan tes jawab singkat. Dari ungkapan yang dibuat oleh Bapak Marsigit, mahasiswa disuruh mencari ungkapan filsafat. Adapun pertanyaan dan jawabannya adalah sebagai berikut.
1.      Anda itu apa? Posisinya saja. Hakekat.
2.      Anda siapa? potensi
3.      Anda dari mana? Terpilih
4.      Anda mau kemana? Memilih
5.      Anda tuh mengapa? Bertanya
6.      Anda ngapain disitu? Berpikir
7.      Siapa nama anda? Dunia/icon
8.      Siapa ayah anda? jiwa
9.      Siapa ibu anda? jiwa
10.  Siapa pak marsigit? pikirannya
11.  Apa cita-citamu? saksi
12.  Siapa di belakangmu? epoche
13.  Siapa di depanmu? fenomena
14.  Siapa di atasmu? nomena
15.  Siapa di bawahmu? Bayang-bayang
16.  Siapa di kirimu? Potensi kiri
17.  Siapa di kananmu? Potensi kanan
18.  Siapa temanmu? pikiran
19.  Siapa kekasihmu? milikmu
20.  Apa pekerjaanmu? mengada
21.  Apa karyamu? pengada
22.  Apa makananmu? bacaan
23.  Apa bacaanmu? Yang ada dan yang mungkin ada
24.  Apa mimpimu? keberadaanku
25.  Kamu tuh di mana? Perbatasan
Berbicara tentang filsafat, filsafat itu letaknya di bawah spiritual. Lalu terkait siapa nama anda, Bapak Marsigit, mengatakan bahwa anada itu adalah icon atau dunia. Setiap dari kita memiliki dunianya masing-masing. Ada Sri Sultan Hamengkubawana. Semua orang itu bawana. Kita itu dunia. Kita memandang seseorang dari pikirannya. Filsafat itu pikirannya. Maka kita adalah pola pikir. Setinggi-tinggi orang berfilsafat ialah ingin menjadi saksi. Misal ada konferensi internasional, jika kita tidak ikut, maka kita gagal menjadi saksi.
Terkait ungkaapn siapakah yang di belaakng kita, Bapak Marsigit menjelaskan yang di belakang kita ada epoche. Istri, ortu, anak, cucu ditaruh di epoche. Karena sekarang sedang Bapak Marsigit mengajar filsafat, maka kelaurganya tidak diperhatikan, maka ditaruh di epoche. Filsafat itu juga berarti dirimu. Dalam belajar filsafat, kita bisa tanya suka-suka dan juga menjawab suka-suka.
Makanan orang berfilsafat adalah bacaan. Hanya orang-orang yang berada di perbatasan lah orang itu akan berilmu. Mengerti dan tidak mengerti. Antara malas dan tidak malas. Hidup anatar nyaman dan tidak nyaman, zona nyaman. Setiap dari kita menembus batas itu.
Filsafat bilangan nol. Apakah anda itu termasuk ontologi. Ontologi juga berarti hakekat. Filsafat itu mengendap dalam diri. Semua ciptaan Tuhan itu potensi. Batu aja punya potensi. Potensi untuk menjadi kecil, besar, sakit, mati. Berfilsafat itu pikiran harus cair. Potensi itu apa saja, yang penting ada perubahan. Anda dari mana, itu istilah filsafatnya adalah potensi. Potensi itu ada dua. Terpilih dan memilih. Terpilih itu takdir. Ke depan itu memilih. Batu ada di merapi karena terpilih. Ada skenario yang memilih batu berada di Merapi. Memilih maknanya hidup adalah pilihan. Memilih itu sesuai dengan kodratnya. Ngapain itu ungkapan filsafatnya adalah berpikir, kalau spiritual berdoa. Mencuri sedang memikirkan mau mencuri.
Bertanya itu awal dari ilmu. Anda tidak akan mungkin punya ilmu kalau tidak bertanya.
Kalau tidak ditanya, pasti tidak akan tahu mana yang tidak paham. Gak paham kalau tidak paham atau ingin memahami kalau dirimu tidak paham. Itu adalah filsafat. Jauh-jauh ke sini ingin membuktikan kalau tidak paham.
Nama itu iconic. Setiap yanga ada itu dunia. Nama itu merangkum duniamu. Yang dekat dengan filsafat itu psikologi. Kamu adalah pertemuan dua jiwa, interaksi dua jiwa. Kadang ketika kita berfilsafat kita akan menjadi orang aneh. Pak marsigit melihat kita yaitu melihat pikirannya kita. Metode berpikir ada dua yaitu abstraksi dan idealisasi. Jika kita akan menikah harus fokus. Karena fenomenologi, seseorang bisa bertemu dengan istrinya. Perempuan lain yang ketemu dimasukkan epoche. Orang awam, epoche itu egp, emang gue pikirin. Bayangkan jika proses epoche tidak jalan. Maka akan sangat bahaya, karena apa-apa yang ditemui sebelumnya pasti akan dipikirkan terus karena di depan. Yang kita epoche kan itu fenomena. Fenomena itu yang mampu kita pikirkan. Sedangkan di atas kita itu naumena. Yang tidak bisa kita pikirkan seperti ikhlas, spiritual, ruh, doa, itu termasuk naumena, maka kita terbatas untuk memikirkannya. Filsafat itu seberapa jauh kita mampu memikirkan. Kita adalah bayang-bayang. Dibawah bayang-bayang daftar hadir misalnya. Omongan kita, pikiran kita semuanya bisa menjadi bayang-bayang. Resep makanan menghasilkan bayang-bayang. Milik anda kekasih anda. Pekerjaan anda mengada. Mengada antara negatif dan positif. Tes dapat nilai nol. Ada tulisan. Tadinya ada ini hasilnya. Sebenar-benar orang sukses karena berada dalam perbatasan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar