Nama : Dian Andarwati
NIM :
17709251063
Pendidikan Matematika (S2) Kelas C
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
Selasa, 28 November 2017
Perkuliahan
Filsafat Ilmu ini diampun oleh Bapak Marsigit. Perkuliahan ini dilaksanakan pada
hari selasa, 28 November 2017. Kurang ilmu itu pasti. Oleh karena itu dalam
mencari ilmu itu diringankan langkah kaki. Cerdas dulu baru mikir cari ilmu. Hidup
itu semakin berjuang semakin keras. Ada isomorifs dalam filsafat. Pasif
berhenti, nothing, akan jadi masalah.
Matematika
itu,mulai dari konkret sampai abstrak. Orang awam mengatakan matematika
konkret. Secara filsafat yang abstrak ini matematika formal. Yang di bawah
matematika konkret. Yang di bawah buat SD, SMP. Yang di atas mahasiswa, aljabar
kalkulus, integral. Tetapi setinggi-tinggi langit pun kalau mau berusaha ada
tangga ikhtiar perubahannya dari konkret menuju abstrak. Teorinya ada semilyar
tangga. Tapi dibagi dua juga boleh, yaitu bawah dan atas. Dibagi tiga menjadi
bawah, sedang, dan tinggi juga bisa. Kalau tangganya sesuai kurikulum matematika
SD, SMP, SMA, dan PTN. Matematika itu SK dan KDnya banyak sekali. Orang lebih
suka belajar daripada mengajar. Karena belajar sesuai dengan kemampuannya. Maka
fislafat gunung iceberg ini berada di indonesia.
Iceberg
itu merupakan fenomena. Gunung itu arti kiasannya orang yang punya kemampuan
tinggi yaitu profesor. Psikologinya siswa belajar itu memperkokoh atau
memperkuat, memberdayakan potensi siswa. Jadi strateginya membimbing mbak elsa
itu memberdayakan mbak elsa suaya kalau ketemu yang ada dan yang mungkin ada
itu memiliki nilai jual.
Hubungan
orang yang satu dengan yang lain, benda yang satu dengan yang lain. Kata Prof
Marsigit, beliau adalah fenomena bagi kita semua. Kalau kita tidak siap, belum
baca jurnal, referensi, judulnya baru dalam pikiran dan belum ditulis, maka Prof
Marsigit menjadi monster yang menakutkan, dan setiap pertemuan adalah bencana,
ini teori psikologi. Tetapi jika kita sudah siap, jika ditanya buku sudah siap,
maka pertemuan dengan pembimbing menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ini cara
mengubah dari bencana menjadi barokah. Kalau tidak percaya, sudah siap-siap
dari amerika, jurnal komplet, datang ke Bali mau lihat letusan Gunung Agung. Gunung
Ggung itu didoakan setiap saat.
Pertemuan
mbak Irma, mbak Elsa dengan Pak Prof didoakan, kapan bisa ketemu. Gunung Agung
juga. Kalau ketemu letusan dan tidak siap, bisa mati. Sebagai gambaran, kita
punya daya, terlihat dari raut wajah. Menyala, redup, dkk. Kelihatan. Sudah
membuat rumah anti tsunami di pantai. Ditaruh di pantai, ternyata tidak ada
tsunami maka akan sedih. Belum bisa untuk menguji. Fenomena seperti itu dalam
matematika juga demikian. Guru matematika juga. Kalau tidak siap, matematika
bisa jadi bencana bagi siswa. Akan tetapi kalau siap menajdi sesuatu yang menyenangkan.
Kesiapan itu penting. Aliran ide, gagasan, gagasan secara filosofis itu seperti
apa dapat dikaitkan dengan matematika. Kalau dulu cm 2 yaitu logos dan tidak. Tidak
logis adalah mitos. Mitos dapat diatasi oleh Thales, kemudian diteruskan oleh Pythagoras.
Prinsip aturan-aturan di langit. Muridnya menurut Aristotel, Realis. Real,
konkret. Maka ilmu itu yang kita jalani, temui, hadapi, maka segala macam ilmu
memuat 2 unsur yaitu rasio dan pengalaman. Rasio belum akan jalan, pengalaman
masih sepotong-potong, maka belum memperoleh ilmu. Itu adalah dalilnya dari
Immanuel Kant.
Kurikulum
dikuasai oleh ilmu murni, padahal yang belajar anak-anak SD. Maka rasio, dsb
menjadi ambisi orang dewasa. Menjadi ambisinya logika. Harus begini-begini.
Konkretnya anak mengalami kesulitan. Bahkan validism itu kesalahan itu benar.
Benar karena belum baca. Yang salah bacanya itu. Ilmu pengetahuan dan ilmu, di
langit dan bawah itu seakan-akan teerjadi di otak kita. Bukan dari genetik atau
otak dari sisi filsafat. Mengetahui metakognisinya. Kalau mau bicara disebalik,
ada unsur bumi dan langit. Di sebalik bumi ada langit dan bumi. Disebalik langit
juga ada langit dan bumi. Inilah proses terjadinya pengetahuan. Menurut Immanuel
Kant. Dalam bukunya the critic of pure
reason. Di sini, ini konsep, kalau secara umum bisa diterapkan dalam matematika
maupun psikologinya. Bagaimana orang berpikir fenomenologi, bagaimana mbak Arung
memikirkan pak Marsigit, fislafat ini, bukan romantis. Pak Marsigit sebagai
fenomena, mbak Arung punya persepsi panca indra. Pakai panca indra itu ada
degree, derajat ke indraannya, maka ada elegi menangkap belalang.
Terkait
melotot. Melototnya, yang dilihat persis dengan yang dipikirkan, plato. Melototnya
0, yang dilihat Pak Marsigit yang dipikirkan bilangan. Awal dari melihat itu
kesadaran. Aku melihat, tapi aku tidak menyadarinya. Setiap yang kita lihat,
memproduksi imajinasi. Imajinasi, gambar, caption. Dengan camdig, yg dilihat 1
detik sudah semilyar caption. Kamu yang sedang begini-begini. Kamera Tuhan itu
kontinu. Maka antara indra kesadaran, imajinasi itulah kamu punya persepsi.
Persepsi itu sudah punya hasil, akibat, bisa diomongkan. Sombong itu
diperlukan. Kalau mempelajari kerucut tapi harus tau silinder itu namnya
apersepsi, untuk apersepsi. Anggur Enak banget, banget itu degree. Sudah punya
persepsi bahwa anggur itu enak. Kalau melihatnya Cuma melotot dua, belum
melotot 80 maka kualitas melotot perlu ditingkatkan. Tapi kalau kita dalam
keadaan pasif sulit ditingkatkan. Maka siswa aktif itu penting biar daya
melototnya.
Orang
kalau mau cerdas bingung dulu. Biar ada perjuangan. Guratan-guratan perjuagan.
Ini pejuang , ini anak manja, tidak pernah berkarya, habis dimakan manusia
serigala. Ternyata kecerdasan itu penting. Itu persepsi, imaginasi, bayangan. Makanya
kalau kita ingin tidur bayangan itu bersliweran karena kita tidak berdoa. Kecuali
dibius. Dibius pun masih ada aliran darah, tapi syaraf dioffkan. Oleh karena
itu bayangan-bayangan bersliweran dnegan yang lain, jadi kreatif. Maka itu
tidak bisa dijangkau oleh fenomena. Kita harus punya daya kritik jika berhadapan
dengan pembimbing yang hebat. Siapkan, cari referensinya. Bukan karya ilmiah
kalau bukan jurnal, maka makanan setiap hari itu jurnal. Cari jurnal
sebanyak-banyaknya karena merupakan syarat lulus.
Tradisional
dan inovatif. Kalau siswanya tidak bawa apa-apa pasif. Kalau siswanya aktif,
ada interaksi. Ketika kita membuat tesis, kita sendiri yang mengkonstruk. Analogi
dengan siswa, siswanya punya inisiatif. Maka kalau di sekolah bukan matematika
formal tetapi matematika sekolah yang konkret.
Peningkatan
kualitas disertasi, anda harus selalu berpikir. Yang membedakan metodologi
disertasi sangat mendalam, ada pendekatan fenomenologi. Memandang istri, air, boleh.
Maka sebenar-benar ilmu menurut fenomenologi akan tercapai kalau tidak punya
perhatian. Anda sendiri tidak memperhatikan jurnal, maka mungkin anda tau
jurnal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar