Senin, 01 Januari 2018

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Selasa, 28 November 2017

Nama  : Dian Andarwati
NIM    : 17709251063
Pendidikan Matematika (S2) Kelas C
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
Selasa, 28 November 2017
Perkuliahan Filsafat Ilmu ini diampun oleh Bapak Marsigit. Perkuliahan ini dilaksanakan pada hari selasa, 28 November 2017. Kurang ilmu itu pasti. Oleh karena itu dalam mencari ilmu itu diringankan langkah kaki. Cerdas dulu baru mikir cari ilmu. Hidup itu semakin berjuang semakin keras. Ada isomorifs dalam filsafat. Pasif berhenti, nothing, akan jadi masalah.
Matematika itu,mulai dari konkret sampai abstrak. Orang awam mengatakan matematika konkret. Secara filsafat yang abstrak ini matematika formal. Yang di bawah matematika konkret. Yang di bawah buat SD, SMP. Yang di atas mahasiswa, aljabar kalkulus, integral. Tetapi setinggi-tinggi langit pun kalau mau berusaha ada tangga ikhtiar perubahannya dari konkret menuju abstrak. Teorinya ada semilyar tangga. Tapi dibagi dua juga boleh, yaitu bawah dan atas. Dibagi tiga menjadi bawah, sedang, dan tinggi juga bisa. Kalau tangganya sesuai kurikulum matematika SD, SMP, SMA, dan PTN. Matematika itu SK dan KDnya banyak sekali. Orang lebih suka belajar daripada mengajar. Karena belajar sesuai dengan kemampuannya. Maka fislafat gunung iceberg ini berada di indonesia.
Iceberg itu merupakan fenomena. Gunung itu arti kiasannya orang yang punya kemampuan tinggi yaitu profesor. Psikologinya siswa belajar itu memperkokoh atau memperkuat, memberdayakan potensi siswa. Jadi strateginya membimbing mbak elsa itu memberdayakan mbak elsa suaya kalau ketemu yang ada dan yang mungkin ada itu memiliki nilai jual.
Hubungan orang yang satu dengan yang lain, benda yang satu dengan yang lain. Kata Prof Marsigit, beliau adalah fenomena bagi kita semua. Kalau kita tidak siap, belum baca jurnal, referensi, judulnya baru dalam pikiran dan belum ditulis, maka Prof Marsigit menjadi monster yang menakutkan, dan setiap pertemuan adalah bencana, ini teori psikologi. Tetapi jika kita sudah siap, jika ditanya buku sudah siap, maka pertemuan dengan pembimbing menjadi sesuatu yang menyenangkan. Ini cara mengubah dari bencana menjadi barokah. Kalau tidak percaya, sudah siap-siap dari amerika, jurnal komplet, datang ke Bali mau lihat letusan Gunung Agung. Gunung Ggung itu didoakan setiap saat.
Pertemuan mbak Irma, mbak Elsa dengan Pak Prof didoakan, kapan bisa ketemu. Gunung Agung juga. Kalau ketemu letusan dan tidak siap, bisa mati. Sebagai gambaran, kita punya daya, terlihat dari raut wajah. Menyala, redup, dkk. Kelihatan. Sudah membuat rumah anti tsunami di pantai. Ditaruh di pantai, ternyata tidak ada tsunami maka akan sedih. Belum bisa untuk menguji. Fenomena seperti itu dalam matematika juga demikian. Guru matematika juga. Kalau tidak siap, matematika bisa jadi bencana bagi siswa. Akan tetapi kalau siap menajdi sesuatu yang menyenangkan. Kesiapan itu penting. Aliran ide, gagasan, gagasan secara filosofis itu seperti apa dapat dikaitkan dengan matematika. Kalau dulu cm 2 yaitu logos dan tidak. Tidak logis adalah mitos. Mitos dapat diatasi oleh Thales, kemudian diteruskan oleh Pythagoras. Prinsip aturan-aturan di langit. Muridnya menurut Aristotel, Realis. Real, konkret. Maka ilmu itu yang kita jalani, temui, hadapi, maka segala macam ilmu memuat 2 unsur yaitu rasio dan pengalaman. Rasio belum akan jalan, pengalaman masih sepotong-potong, maka belum memperoleh ilmu. Itu adalah dalilnya dari Immanuel Kant.
Kurikulum dikuasai oleh ilmu murni, padahal yang belajar anak-anak SD. Maka rasio, dsb menjadi ambisi orang dewasa. Menjadi ambisinya logika. Harus begini-begini. Konkretnya anak mengalami kesulitan. Bahkan validism itu kesalahan itu benar. Benar karena belum baca. Yang salah bacanya itu. Ilmu pengetahuan dan ilmu, di langit dan bawah itu seakan-akan teerjadi di otak kita. Bukan dari genetik atau otak dari sisi filsafat. Mengetahui metakognisinya. Kalau mau bicara disebalik, ada unsur bumi dan langit. Di sebalik bumi ada langit dan bumi. Disebalik langit juga ada langit dan bumi. Inilah proses terjadinya pengetahuan. Menurut Immanuel Kant.  Dalam bukunya the critic of pure reason. Di sini, ini konsep, kalau secara umum bisa diterapkan dalam matematika maupun psikologinya. Bagaimana orang berpikir fenomenologi, bagaimana mbak Arung memikirkan pak Marsigit, fislafat ini, bukan romantis. Pak Marsigit sebagai fenomena, mbak Arung punya persepsi panca indra. Pakai panca indra itu ada degree, derajat ke indraannya, maka ada elegi menangkap belalang.
Terkait melotot. Melototnya, yang dilihat persis dengan yang dipikirkan, plato. Melototnya 0, yang dilihat Pak Marsigit yang dipikirkan bilangan. Awal dari melihat itu kesadaran. Aku melihat, tapi aku tidak menyadarinya. Setiap yang kita lihat, memproduksi imajinasi. Imajinasi, gambar, caption. Dengan camdig, yg dilihat 1 detik sudah semilyar caption. Kamu yang sedang begini-begini. Kamera Tuhan itu kontinu. Maka antara indra kesadaran, imajinasi itulah kamu punya persepsi. Persepsi itu sudah punya hasil, akibat, bisa diomongkan. Sombong itu diperlukan. Kalau mempelajari kerucut tapi harus tau silinder itu namnya apersepsi, untuk apersepsi. Anggur Enak banget, banget itu degree. Sudah punya persepsi bahwa anggur itu enak. Kalau melihatnya Cuma melotot dua, belum melotot 80 maka kualitas melotot perlu ditingkatkan. Tapi kalau kita dalam keadaan pasif sulit ditingkatkan. Maka siswa aktif itu penting biar daya melototnya.
Orang kalau mau cerdas bingung dulu. Biar ada perjuangan. Guratan-guratan perjuagan. Ini pejuang , ini anak manja, tidak pernah berkarya, habis dimakan manusia serigala. Ternyata kecerdasan itu penting. Itu persepsi, imaginasi, bayangan. Makanya kalau kita ingin tidur bayangan itu bersliweran karena kita tidak berdoa. Kecuali dibius. Dibius pun masih ada aliran darah, tapi syaraf dioffkan. Oleh karena itu bayangan-bayangan bersliweran dnegan yang lain, jadi kreatif. Maka itu tidak bisa dijangkau oleh fenomena. Kita harus punya daya kritik jika berhadapan dengan pembimbing yang hebat. Siapkan, cari referensinya. Bukan karya ilmiah kalau bukan jurnal, maka makanan setiap hari itu jurnal. Cari jurnal sebanyak-banyaknya karena merupakan syarat lulus.
Tradisional dan inovatif. Kalau siswanya tidak bawa apa-apa pasif. Kalau siswanya aktif, ada interaksi. Ketika kita membuat tesis, kita sendiri yang mengkonstruk. Analogi dengan siswa, siswanya punya inisiatif. Maka kalau di sekolah bukan matematika formal tetapi matematika sekolah yang konkret.
Peningkatan kualitas disertasi, anda harus selalu berpikir. Yang membedakan metodologi disertasi sangat mendalam, ada pendekatan fenomenologi. Memandang istri, air, boleh. Maka sebenar-benar ilmu menurut fenomenologi akan tercapai kalau tidak punya perhatian. Anda sendiri tidak memperhatikan jurnal, maka mungkin anda tau jurnal.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar