Nama : Dian Andarwati
NIM :
17709251063
Pendidikan Matematika (S2) Kelas C
Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
Selasa, 21 November 2017
Perkuliahan
Filsafat Ilmu ini diampun oleh Bapak Marsigit. Perkuliahan pada hari selasa, 21
November 2017 ini dimulai dengan tes
jawab singkat. Adapun pertanyaan dan jawabannya adalah sebagai berikut.
1. Abstraksinya
hermeneutika: Siklis
2. Abstraksinya
hermeneutika: Linear
3. Idealisasi
hermeneutika:konsep
4. Ontologinya
hermeneutika:fatal
5. Ontologinya
hermeneutika: fital
6. Psikologinya
hermeneutika: interaksi
7. Formalnya
hermeneutika: aturan sosial
8. Normatifnya
hermeneutika: hermeneutika
9. Ruang
dan waktunya hermeneutika: menembus ruang dan waktu
10. Hidupnya
hermeneutika: harmoni
11. Matinya
hermeneutika: berhenti
12. Noumenanya
hermeneutika: noumena
13. A
priorinya hermeneutika: harapan
14. A
posteriorinya hermeneutika: belajar dari pengalaman
15. Bahasa
Jawanya hermeneutika: Cokro manggilingan
16. Analitiknya
hermeneutika: konsep-konsep
17. Sintetiknya
hermeneutika: fenomena-fenomena
18. Teologinya
hermeneutika: Peristiwa di waktu yang akan datang
19. Fatalnya
hermeneutika: terpilih atau dipilih
20. Fitalnya
hermeneutika: memilih
21. Sehatnya
hermeneutika: harmoni
22. Paralogosnya
hermeneutika: Silaturahim para Dewa
23. Anomalinya
hermeneutika: konflik sosial
24. Transedennya
hermeneutika: hukum sosial/
25. hermeneutika:
harmoni/ simulasi
Sumber: Blog Prof
Marsigit yaitu https://powermathematics.blogspot.co.id/2013/04/hermeneutika-hidupoleh-marsigit.html
Hermeneutika
kalau diabstraksi siklik dan linear. Ada yang melingkar dan adapula yang lurus.
Siklik kalau ditarik garis lurus menjadi spiral. Spiral itu ternyata lintasan
hidup manusia. Pergaulan itu spiral bentuknya. Lalu mengapa siklik, karena hari
selasa ketemu hari selasa berikutnya. Mengapa linear karena tanggalnya tidak
pernah sama persis seperti lintasan bumi mengelilingi matahari. Maka hidup kita
dengan apapun itu hermeneutika, boleh saja terjemah dan menerjemahkan
tergantung diemnsinya. Dimensi materi, hermeneutika dicampur atau diaduk. Cat
dan semen diaduk, dihermeneutika, disilaturahim. Murid berinteraksi dengan
gurunya itu namanya berhermeneutika. Hakekat hermeneneutika adalah fatal dan
fital. Fatal itu takdir. Fital itu ikhutar. Interakasi antara siswa dan guru
itu ada takdir dan ikhtiarnya. Ikhitar seperti apapun jika yang ditunggu belum
hadir maka tidak akan datang. Takdir itu dipilih. Dan ikhtiar adalah memilih.
Manusia
itu bisa dibedakan sudah bisa menembus ruang dan waktu atau belum. Artinya bisa
dibedakan waktu dan tempatnya. Di depan batu atau dibelakang batu dapat ditulis
kata. Jika engaku berhenti ikhtiar maka matilah hidupmu itu. Maka jangan
berhenti ikhtiar. Apriorinya hermeneutika adalah harapan. Dalam kegiatan
belajar mengajar itu pasti ada harapan. Belajar matematika itu harus dari
pengalaman. Semua yang di langit itu pengalaman.
Kalau
selasa itu di puncak maka lawannya selasa di bawah, itu namanya cokro
manggilingan. Guru itu harus bisa memikirkan masa depan. Besok itu siswa
belajar apa. Ini penerapan filsafat dalam pembelajaran mateamatika. Jika guru
menunjuk siswa itu bagi siswa itu takdir. Kamu disentuh itu juga takdir dari
Alloh lantaran yang menyentuh. Inilah filsafat, dipikirkan. Sebenar-benar
filsafat itu berpikir. Jika belum dibaca, belum dipikirkan maka namanya
termakan mitos. Fitalnya hermeneutika itu memilih. Diantara banyak objek kamu
memilih apa. Silaturahim para dewa itu misalnya diibaratkan pemilihan para
senat. Paralogosnya hermeneutika. Model pembelajaran matematika itu contoh
hermeneutika, yaitu simulasi.
Di
dalam filsafat itu objeknya sama aja, setara dengan yang ada dan yang mungkin ada.
Objek pikir itu konsep. Objek kenyataan materi. Oleh karena itu, hermeneutika
itu untuk mengenralisasi fenomena belajar. Berhermeneutika itu menembus ruang
dan waktu.
Psikologi
itu berarti naik turun untuk spiritual, fislafat, dsb. Jadi spiritualnya
belajar matematika itu apa?ialah berdoa. Maka satu sama lain berhubungan saling
menjelaskan. Materi juag begitu. Materinya berpikir adalah pikiran otak.
Normatifnya berpikir adalah metakognisi. Meta itu disebalik. Metakognisi
munculnya dari Aristoteles. Maka metafisik itu, misal warna map ini apa. Kalau
yang sudah belajar filsafat pasti akan menjawab selain warna kuning. Hakekat belajar
matematika itu merentang dari materi ke spiritual. Matematika SD sampai SMA itu
berbeda dan digarap dalam matematika.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar