Senin, 01 Januari 2018

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu Selasa, 21 November 2017

Nama  : Dian Andarwati
NIM    : 17709251063
Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
Selasa, 21 November 2017
Perkuliahan Filsafat Ilmu ini diampun oleh Bapak Marsigit. Perkuliahan pada hari selasa, 21 November 2017 ini dimulai dengan tes jawab singkat. Adapun pertanyaan dan jawabannya adalah sebagai berikut.
1.      Abstraksinya hermeneutika: Siklis
2.      Abstraksinya hermeneutika: Linear
3.      Idealisasi hermeneutika:konsep
4.      Ontologinya hermeneutika:fatal
5.      Ontologinya hermeneutika: fital
6.      Psikologinya hermeneutika: interaksi
7.      Formalnya hermeneutika: aturan sosial
8.      Normatifnya hermeneutika: hermeneutika
9.      Ruang dan waktunya hermeneutika: menembus ruang dan waktu
10.  Hidupnya hermeneutika: harmoni
11.  Matinya hermeneutika: berhenti
12.  Noumenanya hermeneutika: noumena
13.  A priorinya hermeneutika: harapan
14.  A posteriorinya hermeneutika: belajar dari pengalaman
15.  Bahasa Jawanya hermeneutika: Cokro manggilingan
16.  Analitiknya hermeneutika: konsep-konsep
17.  Sintetiknya hermeneutika: fenomena-fenomena
18.  Teologinya hermeneutika: Peristiwa di waktu yang akan datang
19.  Fatalnya hermeneutika: terpilih atau dipilih
20.  Fitalnya hermeneutika: memilih
21.  Sehatnya hermeneutika: harmoni
22.  Paralogosnya hermeneutika: Silaturahim para Dewa
23.  Anomalinya hermeneutika: konflik sosial
24.  Transedennya hermeneutika: hukum sosial/
25.  hermeneutika: harmoni/ simulasi


Hermeneutika kalau diabstraksi siklik dan linear. Ada yang melingkar dan adapula yang lurus. Siklik kalau ditarik garis lurus menjadi spiral. Spiral itu ternyata lintasan hidup manusia. Pergaulan itu spiral bentuknya. Lalu mengapa siklik, karena hari selasa ketemu hari selasa berikutnya. Mengapa linear karena tanggalnya tidak pernah sama persis seperti lintasan bumi mengelilingi matahari. Maka hidup kita dengan apapun itu hermeneutika, boleh saja terjemah dan menerjemahkan tergantung diemnsinya. Dimensi materi, hermeneutika dicampur atau diaduk. Cat dan semen diaduk, dihermeneutika, disilaturahim. Murid berinteraksi dengan gurunya itu namanya berhermeneutika. Hakekat hermeneneutika adalah fatal dan fital. Fatal itu takdir. Fital itu ikhutar. Interakasi antara siswa dan guru itu ada takdir dan ikhtiarnya. Ikhitar seperti apapun jika yang ditunggu belum hadir maka tidak akan datang. Takdir itu dipilih. Dan ikhtiar adalah memilih.
Manusia itu bisa dibedakan sudah bisa menembus ruang dan waktu atau belum. Artinya bisa dibedakan waktu dan tempatnya. Di depan batu atau dibelakang batu dapat ditulis kata. Jika engaku berhenti ikhtiar maka matilah hidupmu itu. Maka jangan berhenti ikhtiar. Apriorinya hermeneutika adalah harapan. Dalam kegiatan belajar mengajar itu pasti ada harapan. Belajar matematika itu harus dari pengalaman. Semua yang di langit itu pengalaman.
Kalau selasa itu di puncak maka lawannya selasa di bawah, itu namanya cokro manggilingan. Guru itu harus bisa memikirkan masa depan. Besok itu siswa belajar apa. Ini penerapan filsafat dalam pembelajaran mateamatika. Jika guru menunjuk siswa itu bagi siswa itu takdir. Kamu disentuh itu juga takdir dari Alloh lantaran yang menyentuh. Inilah filsafat, dipikirkan. Sebenar-benar filsafat itu berpikir. Jika belum dibaca, belum dipikirkan maka namanya termakan mitos. Fitalnya hermeneutika itu memilih. Diantara banyak objek kamu memilih apa. Silaturahim para dewa itu misalnya diibaratkan pemilihan para senat. Paralogosnya hermeneutika. Model pembelajaran matematika itu contoh hermeneutika, yaitu simulasi.
Di dalam filsafat itu objeknya sama aja, setara dengan yang ada dan yang mungkin ada. Objek pikir itu konsep. Objek kenyataan materi. Oleh karena itu, hermeneutika itu untuk mengenralisasi fenomena belajar. Berhermeneutika itu menembus ruang dan waktu.
Psikologi itu berarti naik turun untuk spiritual, fislafat, dsb. Jadi spiritualnya belajar matematika itu apa?ialah berdoa. Maka satu sama lain berhubungan saling menjelaskan. Materi juag begitu. Materinya berpikir adalah pikiran otak. Normatifnya berpikir adalah metakognisi. Meta itu disebalik. Metakognisi munculnya dari Aristoteles. Maka metafisik itu, misal warna map ini apa. Kalau yang sudah belajar filsafat pasti akan menjawab selain warna kuning. Hakekat belajar matematika itu merentang dari materi ke spiritual. Matematika SD sampai SMA itu berbeda dan digarap dalam matematika.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar