Senin, 01 Januari 2018

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu NARASI BESAR DUNIA Refleksi Perkuliahan Selasa, 10 Oktober 2017 dan Selasa, 17 Oktober 2017

Nama  : Dian Andarwati
NIM    : 17709251063
Pendidikan Matematika (S2) Kelas C

Refleksi Perkuliahan Filsafat Ilmu
NARASI BESAR DUNIA

Refleksi Perkuliahan Selasa, 10 Oktober 2017 dan Selasa, 17 Oktober 2017
Perkuliahan Filsafat Ilmu ini diampun oleh Bapak Marsigit. Pada perkuliahan hari Selasa, 10 Oktober 2017 dan Selasa, 17 Oktober 2017 Bapak Marsigit menjelaskan terkait narasi besar dunia dalam dua kali pertemuan. Adapun penjelasan terkait narasi besar dunia terangkum dalam foto di bawah ini.




Ini kehidupan kontemporer atau jaman sekarang, gambaranannya seperti ini. Cethol-cethol itu  menggambarkan kita-kita ini yang hidup jaman sekarang, mengalami disorientasi. Kebingungan. Dianatra para cethol ini ada cethol kreatif seperti mahasiswa yang selalu menyempatkan membaca filsafat. Mencari limbah kontemporer. Kemudian ada kapal. Kapalnya sekarang kapal bahasa. Artinya filsafat jaman sekarang itu filsafat bahasa. Filsafat bahasa disebut juga filsafat analitik. Bahasa itu artinya karena filsafat. Filsafat itu isme. Artinya pusat. Filsafat bahasa artinya pusatnya bahasa, semua bisa didefinisikan dengan bahasa, sebenar-benar istriku adalah bahasa. Sebenar-benar rumahku adalah bahasa. Sebenar-benar hidup adalah bahasa. Maka siapakah diriku adalah kata-kataku. Maka kita harus berhati-hati dalam berkata-kata.
Sekarang ini limbahnya dari narasi besar dari awal akhir jaman. Karena filsafat harus bisa. Filsafat itu modus, artinya modis. Anda berpakaian, semuanya termasuk modus, modus itu icon, icon itu bahasa. Segala macam isme munculnya bisa ditelaah dari jenis objeknya. Ini adalah batas antara langit dan bumi. Karena langit itu  gagasan. Bumi itu kenyataan. Jadi yang objeknya ada di pikiran itu bisa banyak bisa sedikit. Objek yang ada di pikiran itu yang bersifat tunggal, mono. Kalau filsafat ditambah mono. Monoisme. Tapi jika dalam kenyataan yang tunggal itu jadi plural. Kalau filsafat jadi pluralisme. Kemudian yang tunggal di dalam pikiran atau logika itu logisisme. Yang bersifat plural, kenyataan yang ada di bumi itu bersifat real, maka ada filsafat realisme. Kemudian naik menjadi kuasa Tuhan. Dan spiritualisme. Jadi yang mono yang tunggal pada akhirnya yang bersifat absolut itu adalah kuasa Tuhan. Semua yang ada di pikiran gagasan di langit itu mucul jadi absolut, bersifat ideal maka juga muncul idealisme. Jadi monoisme, logisime, pikiran, gagasan itu di langit sana. Sedangkan yang real menajdi kenyataan. Yang di atas tokohnya plato. Yang di bumi tokohnya aristoteles. Aristotelialisme. Jadi istriku dlam pikiran Cuma satu, tapi kenyataannya istriku banyak sekali. Kalau bicara poligami itu kecil. Maka 1000 x 1000 pangkat semilyar pun tidak akan cukup untuk mendefinisikan. Istriku yang sedang studi tour, sitriku yang di rumah, istriku yang sedang mandi, dsb.
Plato idealis. Logika bersifat analitik. Sulitnya bersifat di sini ada analitik, di sini juga ada analitik. Yang satu konsisten, yang satunya. Dan ini beda maknanya. Metafisik dari bahasa itu sebenarnya konsisten juga. Logika, analitik itu konsisten. Yang penting ide 1,2,3 dst berjalan. Orang matematika murni bisa definisi, teorema, ....Tidak masalah yang penting bersifat identitas. Identitas adalah A = A. Sedangkan yang kenyataan bersifat A tidak sama dengan A atau kontradiksi. Maka yang di atas bumi ini semua tidak lain tidak bukan adalah aturan. Dan yang di bawah tidak lain tidak bukan adalah bayangan. Aturan bersifat analitik, bayangan bersifat sintetik. Ide, logika, pikiran, konsisten bersifat apriori, maka kenyataan bersifat aposteori. Jadi A=A dan A tidak sama dengan A itu artinya 2 tidak sama dengan 2. Karena 2 sbeleha kiri lebih besar dari dua sebelah kanan, tetapi kalau identitas 2 =2 hanya benar jika dalah dalam pikiran. Semua matematika yang ditulis salah secara metafisik. Sebenar-benar yang terjadi adalah aku tidak mampu menyebutkan siapa diriku, karena belum selesai aku menyebutkan siapa diriku, maka sudah berubah daritadi menjadi sekarang. Karena di sini terikat oleh ruang dan waktu. Dan ruang dan waktu adalah salah satu ilmu.
Kalau di sini 11 dibagi dua tergantung cara membaginya. 11 dibagi 2 bisa 11 bisa 1. Ini adalah dunia maya maka kita semua adalah bayangan dari dunia maya. Jenis rautan wajahmu ini adalah terpengaruh oleh bacaan yang kau baca malam tadi. Ada cemberut, tersenyum, cemberut derajat lima, dsb. Ibu Rahayu di sini karena di wa, telpon, maka bu rahayu adalah bayangan dari dunia maya. Kita semua ini adalah bayangan dari aturan. Aturan yang di atas bersifat absolut, aturan yang di bawah bersifat relatif. Maka muncullah aliran relatifisme. Relatif. Demikian seterusnya maka yang di atas pakai rasio. Dan bersikap skeptis. Tokohnya adalah Rene Descartes. Yang di bawah adalah empiris. Antara rasionalisme dan empirisisme selama berabad-abad terjadilah namanya pertengkaran yang hebat. Di sini sebelum jamannya Rene Descartes dan ada jaman gelap.
Dalam filsafat, kita ini berada dalam jaman modern. Kemudian pertengkaran yang begitu hebat. Rene Descartes sangat fanatik karena dia orang pengalaman. Kalau musim dingin di Perancis, semua yang di lihat putih. Kalau orang yang sudah biasa di sana sampai terkondisi sehingga mimpi itu sulit dibedakan antara mimpi dan bukan mimpi. Suatu ketika Rene Descartees bermimpi dan mimpinya persis seperti kenyataan. Dia tidak bisa menentukan, sebenarnya dia ini kenyatan atau mimpi. Jangan-jangan KBM ini pertemuan para arwah. Pernah naik kapal? Kuliah filsafat? Mimpi bener? Apakah buktinya kalau ini kenyataan bukan mimpi. Mimpi lebih kreatif dari kenyataan, misal mimpi terbang. Dikejar-kejar. Hampir ketabrak kakinya. Suhu juga mempengaruhi. Suatu ketika tidur, selimutnya geser. Dingin. Pakai jas, tidak pakai celana. Kecapekan mimpi dipengaruhi.
Rene Descartes meragukan Tuhan dalam rangka mencari Tuhan. Maka dia menemukan kunci. Saya sedang berpikir itulah kenyataan. Maka saya nyata karena sedang berpikir, saya bertanaya maka saya ada. Saya ada karena berpikir. Kalau nyatet terus tapi gak berpikir terancam keberaadaannya. Secara fisik ada, metafisik tidak ada.
Rene punya prinsip. Tiadalah ilmu kalau tidak berdasarkan rasio. Ada yang membantah tidak ada imu kalau tida ada pegalaman.  Maka muncullah Immanuel Kant. 1671. Kata Immanuel Kant, Simbah Descartes, benar tetapi tidak pener.
Rene Descartes benar tetapi terlalu mendewa-dewakan rasio tapi mengabaikan pengalaman. Hetium mendewa-dewakan pengalaman tetapi mengabaikan rasio. Seharusnya dua-duanya digabung. Rasio yang bersifat apriori, analtik apriori. Pengalaman yang bersifat sintetik aposteriori, dari pengalaman diambil sintetiknya dari rasio diambil apirorinya, maka sebanr ena ilmu adalah sintetik apripori itu mnurut Immanuel Kant. Dalam bukunya the critic of the reason. Buku yg Prof Marsigit gunakan untuk menulis disertasi.
Bapaknya Bapak Marsigit mungkin sudah mulai lupa, tetapi terkait logika pengalaman masih bisa banyak bercerita tentang pengalamannya. Pada tahun 1857 lahirlah seorang yang bernama A. Compte. Compte punya teori. Seorang mahasiswa di Perancis tetapi tidak lulus. Kita umat beragam islam harus beristighfar, kita itu tidak hanya berteori tetapi membangun dunia. Dunia yang kita bangun tidak cukup. Filsafat tidak cukup. Agama tidak logis. Menurut Compte agaman ditaruh di bawah saja, maka tidak dapat untuk membangun dunia. Baru pada paling atas aliran positive, saintifik. Maka jika pak menteri pernah belajar filsafat seharusnya tidak mengaharuskan belajar kurikulum dengan saintifik karena saintifik menafikkan agama. Kemudian dalam narasi dunia, posisi indonesia ada material, forrmal, normatif atau filsafat dan spiritual.
Untuk kerajaannya, yang paling bawah adalah arcaid, tribal, tradisional, feudal, modern, post modern.  Di atasnya ada post-post modern atau power now. A. Compte agama di paling bawah, kehidupan sekarang agama di paling bawah juga tetapi maksimal tradisional. Dunia sekarang seperti itu, jendelanya adalah handphone kita ini. Teras kehidupan, yang notabene spiritual berada di bawah. Buka yahoo dkk sekarang ini isinya cuma perkosaan, penculikan, dkk. Tapi ini sudah disindir oleh cerita seorang Resi Gutawa. Isitrinya namanya Dewi Windarti dikasih hadiah Cupumanik sama dewa.
Bayangkan NKRI kita tidak paham, tidak mengerti, belum paham. Kalau dulu tidak paham. Kalau sekarang kita tidak mampu. Tidak mampu menolak. Akhirnya gerakan kita Cuma kerja, kerja dan kerja. Padahal sebetulnya doa, doa, doa. Harusnya melibatkan spiritual. Misalnya kata Pak marsigit KPD, kerja pikir doa. nyanyian kita yang laku di tingkat internasional adalah investasi. Invest, invest, invest. Tidak ada kata lain yang paling indah kecuali investasi.
Mendatangkan tokoh inter tidak mudah dan tidak murah. Mendatangkan obama misalnya. Kalau semua dimiliki negara lain, kita pong pong bolong. Kita tidak punya daya apapun. Tiap hari tiap malam seakrang ini beritanya LGBT. Kalau perempuan-perempuan berpikir jadi laki-laki, jadi laki-laki betul. Maka jangan sampai berpikir demikian.
Kurikulum kita sekarang ini yang mau tidak mau sesuai dnegan keadaan dunia. Jadi menteri, rakyatku sudah seperti itu. Ditopang mulai dari materialisme kemudian kapitalisme kemudian utilitarian pragmatisme (dunia instant) sehingga karena dunia instant kadang orang itu lupa. Sebagai contoh pak ingin minta tanda tangan. Liberalisme, hedonisme. Karena hedonisme sudah keturutan apapun tercapai apapun punya duit punya senjata. Bingung. Maka ada eksperimen pikiran.

Materialisme muncul di tengah hidup. Tokohnya Angel E. Jadi materialisme pusatnya di materi lawannya dari spiritualisme. Maka dulu jadi PKI. Materialisme yang bercampur jadi perebutan kekuasaan. Dulu Gerwani, PKI perempuan. Aksi yang dilakukan Gerwani adalah sebagai berikut. Mereka menyuruh anak-anak minta permen ke bu guru. “Anak-anak coba minta permen sama bu guru”. Kemudian anak-anak bilang, “Minta permen bu guru”. Anak-anak bilang lagi, “terima kasih bu guru”. Lalu Gerwani minta anaka-anak minta ke Tuhan. “Minta permen ke Tuhan. Gimana? Diberi tidak.” Lalu Gerwani bilang Tuhan tidak ada. Materialisme. Ngeri. Kalau yang ngalami ngeri. Bapak pak mar pengurus tni tingkat kecamatan. Kamboja negara yang sempat PKI menang. Komunis menang. 10 tahun yang lalu Pak Prof ke Kamboja. Ada museumnya, museum keganasannya. Screening, orang kampung diangkut dimasukin gedung terus suruh baca. Bisa baca kapital musuh komunis. Bawa ke ladang ditembak. Banyak janda di Kamboja. Kehilangan anak, kehilangan suami. Seperti itu keadaannya. Maka negara mengalami disorientasi. Kebingungan. Karena adanya komunis.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar